Rakor PKBM Bina Bangsa Dorong Warga Belajar Mandiri Lewat Vokasi dan Kewirausahaan

|
17 September 2026
|
Rakor PKBM Bina Bangsa Dorong Warga Belajar Mandiri Lewat Vokasi dan Kewirausahaan

SIMETRIS NEWS, PONOROGO – Pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) tidak hanya sebatas kegiatan pembelajaran. Lebih dari itu, PKBM juga dituntut mampu membekali warga belajar dengan keterampilan, pengalaman berusaha, serta mendorong kemandirian ekonomi.


Semangat tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Rapat Koordinasi PKBM Bina Bangsa yang digelar di Desa Lembah, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo.
Kepala PKBM Bina Bangsa, Drs. Achmadi, S.H., mengatakan pengembangan PKBM perlu diarahkan agar warga belajar mendapatkan bekal yang bisa diterapkan setelah menyelesaikan pendidikan.


“PKBM bukan hanya tempat untuk belajar. Warga belajar juga perlu kita bekali keterampilan dan pengalaman, sehingga nantinya mampu berwirausaha dan mandiri,” ujar Achmadi.


PKBM Bina Bangsa pada tahun 2026 memiliki sebanyak 64 peserta didik, dari kelas Paket A, Paket B hingga Paket C. Dalam rakor tersebut, penguatan program dibahas dari dua sisi, yakni pengembangan vokasional dan penguatan pendanaan agar kegiatan PKBM dapat berjalan secara berkelanjutan.


Salah satu potensi vokasional yang mendapat perhatian adalah peternakan ayam. Berdasarkan pengalaman yang disampaikan dalam forum, usaha tersebut memiliki peluang cukup luas, mulai dari ayam petelur, ayam pedaging hingga pembibitan dan penetasan DOC.


Untuk ayam petelur, sekitar 200 ekor ayam mampu menghasilkan kurang lebih 550 butir telur setiap lima hari. Jika dihitung dalam satu bulan, produksinya dapat mencapai lebih dari 3.000 butir telur. Jumlah tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan karena kebutuhan pasar cukup tinggi.


Sementara pada ayam pedaging, masa pemeliharaan berkisar 70 hingga 75 hari. Ayam dengan bobot sekitar 8 ons hingga 1 kilogram disebut sudah memiliki pasar. Permintaan juga datang secara berulang, sehingga peluang pengembangan usaha masih terbuka.


Selain produksi telur dan ayam pedaging, terdapat peluang pembibitan dengan memelihara indukan sendiri. Telur yang dihasilkan sekitar 20 ekor indukan dapat dikumpulkan selama lima hingga enam hari, kemudian dimasukkan ke mesin penetas.


Setelah melalui proses penetasan sekitar 21 hari, telur akan menetas menjadi DOC. Dengan sistem penetasan secara bergilir, produksi dapat dilakukan setiap minggu dengan kapasitas sekitar 60 hingga 80 ekor DOC per minggu. Jika dilakukan secara rutin, produksinya dapat mencapai kurang lebih 320 ekor DOC dalam satu bulan.


“Yang kita dorong bukan sekadar bisa memelihara ayam, tetapi bagaimana warga belajar memahami prosesnya dari pembibitan, pemeliharaan sampai pemasaran. Dari situ ada pengalaman usaha yang bisa menjadi bekal kemandirian,” lanjut Achmadi.


Menurutnya, model vokasional seperti peternakan dapat dikembangkan sesuai potensi lingkungan dan kebutuhan pasar. Dengan demikian, pembelajaran di PKBM memiliki hubungan langsung dengan kehidupan dan peluang ekonomi masyarakat.


Selain aspek vokasional, rakor juga membahas penguatan pembiayaan serta pengelolaan keuangan PKBM. Kegiatan produktif diharapkan dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program.


Melalui penguatan tersebut, PKBM Bina Bangsa berupaya membangun pola pendidikan yang tidak berhenti pada teori, tetapi berlanjut pada keterampilan, pengalaman kerja, kewirausahaan dan kemandirian warga belajar.(*)