Jumlah Murid Baru di SMPN 1 Sawoo Masih Stabil, Evaluasi Bersama Diperlukan untuk Tingkatkan Kualitas

SIMETRIS NEWS, PONOROGO – Hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026, SMPN 1 Sawoo kekurangan sebanyak 83 murid, dari kuota maksimal 6 rombongan belajar (rombel) atau sekitar 192 murid, hanya menerima 109 peserta didik baru.
Kepala SMPN 1 Sawoo, Susanto yang baru menjabat sejak bulan Mei lalu, mengatakan bahwa kondisi tersebut tidak dapat dimaknai bahwa sekolahannya mengalami penurunan peminat secara drastis. Karena kuota yang ditargetkan adalah kuota maksimal, padahal sebelumnya sudah meminta untuk pengurangan target sebanyak 1 rombel.
Menurutnya, pada tahun 2025 SMPN 1 Sawoo mendapatkan peserta didik baru sebanyak 114 murid, dan untuk tahun 2026 mendapat peserta didik baru sebanyak 109 murid. jadi tidak berkurang drastis, masih sangat stabil penerimaan peserta didik barunya.
“Masih stabil penerimaan murid di SPMB tahun 2026 dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” ujarnya. Rabu, (1/7) saat ditemui di kantornya.
Berdasarkan jumlah peserta didik baru yang diterima, pihaknya akan membagi dalam empat rombel. Skema ini dinilai lebih efektif daripada memaksakan pembentukan enam rombel. Nanti malah jumlahnya per rombelnya kurang ideal.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa tidak terpenuhinya pagu pada SPMB disebabkan antara lain, pertama pagu yang diberikan memakai hitungan maksimal, padahal sudah mengajukan pengurangan satu rombel, agar lebih realistis tapi tidak di acc, kedua masyarakat lebih memilih sekolah berbasis keagamaan di pondok pesantren, ketiga masyarakat mulai memilih sekolah di kota, dan keempat lulusan dari sekolah penyangga juga mengalami penurunan. Tren tersebut sudah kelihatan dua hingga tiga tahun terakhir.

“Itu tadi faktor-faktor yang menyebabkan pagu maksimal tidak terpenuhi,” ungkapnya.
Untuk memperbaiki sistem tata kelola kedepan, ia memastikan bahwa pihak sekolah terbuka terhadap berbagai masukan dari masyarakat. Ia memastikan bahwa seluruh aspirasi dari wali murid maupun masyarakat akan dijadikan sebagai dasar evaluasi untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di SMPN 1 Sawoo.
Disinggung adanya isu terkait uang gedung yang diberlakukan untuk ketiga kelas, ia mengatakan bahwa itu beberapa tahun lalu, dan sekarang hanya dilakukan kepada peserta didik baru dan itupun pengelolaan dan kesepakatannya dilakukan oleh pihak komite.
“Di sekolah negeri selalu dituntut memberikan layanan pendidikan secara maksimal dengan berbagai tuntutan event dari pemerintah, sementara regulasi kurang berpihak, ya intinya kita akan menerima masukan dari wali murid maupun masyarakat untuk evaluasi dan mencari solusi yang presisi,” pungkas Susanto, Kepala SMPN 1 Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. (*)