Kadisbudparpora Ponorogo, Jamin Pelaksanaan FNRP XXXI Berjalan Clean and Clear

Kadisbudparpora Ponorogo, Jamin Pelaksanaan FNRP XXXI Berjalan Clean and Clear

SIMETRIS NEWS, PONOROGO – Banyaknya sorotan miring terkait keikutsertaan Disbudpar Provinsi Jawa Timur, serta adanya dugaan tidak independennya dewan pengamat atau dewan juri Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi membantah keras semua tudingan yang berkembang.

Judha menjamin bahwa kualitas kelima dewan pengamat sangat mumpuni berdasarkan disiplin keilmuan dibidangnya, tidak mungkin mempertaruhkan keilmuan demi ketidaknetralan. Ia menilai FNRP XXXI tahun 2026 berjalan lebih bagus dan profesional dibandingkan tahun sebelumnya.

“Saya jamin dan bergaransi pelaksanaan FNRP XXXI clean and clear tidak ada masalah dari para peserta, kalau ada seharusnya sudah muncul saat technical meeting,” tegasnya. Kamis, (18/6).

Disinggung terkait keikutsertaan Kyai Lodra Disbudpar Provinsi Jawa Timur, ia menerangkan bahwa pada awalnya di wilayah Surabaya ada sekelompok seni yang ingin ikut FNRP dengan nama Kyai Lodra, hal ini sebagai wujud mentransmisikan serta melestarikan Seni Reog Ponorogo di Surabaya. Jadi keberadaan Grup Kyai Lodra yang didukung oleh Disbudpar Jatim adalah salah satu bentuk partisipasi atas wadah para seniman yang ada di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya.

“Dari awal terbentuk, sebagai tindak lanjut atas wadah dalam mentransmisikan budaya Reog Ponorogo di Surabaya, secara luas di Jawa Timur,” jelasnya.

Menurutnya, ia sebagai panitia apabila ada yang mendaftar ya diterima. Dan memang tidak ada dinamika yang muncul saat itu, seharusnya sudah selesai, semua proses sudah dilalui, semua setuju dalam technical meeting, semuanya clean and clear.

Terkait adanya indikasi dewan pengamat yang disinyalir diundang oleh salah satu Grup Reog Ponorogo saat gladi kotor, tidak mungkin ada perubahan konsep pertunjukan dalam semalam, karena rata-rata berlatih koreografer Seni Reog Ponorogo sebagai tarian kolosal itu selama 3 bulan. Jadi ya penilaian dewan pengamat pasti sesuai apa yang ditampilkan di panggung.

Namun dia menolak untuk menilai adanya dewan pengamat yang hadir saat latihan, karena bukan kapasitasnya untuk menilai hal tersebut, intinya Judha meyakini bahwa dewan pengamat pasti profesional dan netral, tidak mungkin mempertaruhkan keilmuannya.

Sedangkan terkait penurunan jumlah peserta dari tahun ke tahun, Judha menerangkan bahwa hal tersebut terkait anggaran. Menurutnya sebenarnya mereka mau ikut di FNRP tapi terganjal minimnya support anggaran dari pemerintah yang sedang mengalami pemangkasan anggaran. Namun mereka ikut menyaksikan secara langsung FNRP di Panggung Utama Alun-alun Ponorogo.

“Hak itu membuktikan, bahwa penanganan FNRP masih memuaskan mereka, adanya dinamika itu kan muncul dari luar peserta,” ujarnya.

Semua peserta tentunya mendapatkan support anggaran ada yang dari pemerintah, ada yang dari pihak sekolahan, atau dari pihak ketiga. Dan support pendanaan dari pemerintah juga tidak menjamin akan mendapatkan juara, dulu SMAN 1 Ponorogo, Universitas Brawijaya Malang juga juara berkali-kali.

“Ya intinya tidak ada masalah, tidak ada klarifikasi dengan pihak-pihak yang mempermasalahkan, semua sudah berjalan profesional dan sesuai aturan, saya jamin semua clean and clear pelaksanaan Festival Nasional Reog Ponorogo tahun 2026,” pungkasnya. (*)