Dewan Kesenian Ponorogo Menggagas Wadah Aspirasi Pelestari Reog Ponorogo

Dewan Kesenian Ponorogo Menggagas Wadah Aspirasi Pelestari Reog Ponorogo

SIMETRIS NEWS, PONOROGO – Adanya polemik yang muncul usai Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026. Para pegiat budaya Seni Reog Ponorogo mengadakan evaluasi terbatas untuk merumuskan wadah aspirasi bagi seluruh insan pelestari, di Aula Joglo Srikandi, Patihan Kidul Siman, Jumat, (19/6) malam.

Sejumlah tokoh pegiat Seni Reog Ponorogo hadir dalam diskusi tersebut, pembahas menyeluruh terkait pelaksanaan FNRP tahun 2026, mulai dari pemilihan frasa sampai pada polemik yang lagi viral yakni perbedaan pandangan terkait pelaksanaan dan mekanisme FNRP dan support pemerintah.

Hal yang paling mendasar adalah terkait evaluasi pelaksanaan FNRP dan membentuk wadah aspirasi bagi seluruh insan pelestari Seni Reog Ponorogo yang akan bekerja sebagai Mitra Pemkab Ponorogo dalam memaksimalkan pelestarian Seni Reog Ponorogo yang telah menjadi akar budaya di warga Ponorogo.

Ketua Dewan Kesenian Ponorogo, Wisnu HP, mengatakan forum tersebut merupakan langkah awal untuk menghimpun berbagai pandangan dari masyarakat seni. Kita akan berikhtiar bersama untuk membangun tata kelola Reog Ponorogo yang lebih baik. Semua aspirasi yang disampaikan akan menjadi bahan penting untuk dibawa ke ruang diskusi yang lebih besar dan lebih representatif.

“Kita membutuhkan wadah aspirasi bagi seluruh Pelestari Seni Reog Ponorogo,” ungkapnya.

Peserta forum sepakat mendorong penyelenggaraan sarasehan Reog Ponorogo dalam waktu dekat untuk merumuskan bagaimana membentuk sebuah wadah aspirasi bagi para pelestari Seni Reog Ponorogo. Agenda tersebut direncanakan melibatkan seluruh perwakilan pelestari, budayawan, akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Melalui sarasehan itu, diharapkan lahir rekomendasi strategis mengenai pelestarian, pengembangan, regulasi, dan tata kelola Festival Nasional Reog Ponorogo yang proporsional. Sarasehan nantinya menjadi momentum dalam memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan sekaligus menjaga marwah Reog Ponorogo sebagai warisan budaya yang terus hidup dan berkembang.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus membangun ruang komunikasi yang sehat demi masa depan Reog Ponorogo.

“Mari kita duduk bersama, berpikir bersama, dan bergerak bersama. Reog Ponorogo akan tetap besar apabila seluruh elemennya merasa memiliki, saling menghargai, dan memiliki tujuan yang sama untuk menjaga marwah budaya warisan leluhur,” pungkasnya. (*)